Meninggalnya Mahasiswa ITB,.

Akhirnya kembali dari Depok hari Senin (09/02/09) pukul 20.15, sejak Sabtu (07/02/09) sore, tepatnya pukul 17.30 meninggalkan Bandung untuk pulang ke Depok untuk melakukan beberapa hal, yaitu urusan keluarga dan masalah alat-alat elektronik di rumah,.πŸ™‚

Setibanya di Bandung, segera menuju kos dan menaruh beberapa barang sekaligus menjemput motor yang tertidur selama lebih dari 48 jam dan langsung dipacu ke kampus,.πŸ˜€

Kehadiran di kampus adalah untuk menghadiri rapim (rapat pimpinan) lembaga KM ITB membahas masalah yang terjadi dengan rekan-rekan Ikatan Mahasiswa Teknik Geodesi (IMG) pada hari Minggu (08/02/09),.

Agenda utama ketika itu memang untuk klarifikasi kejadian sesungguhnya, karena memang telah berbagai berita tersebar di media, khususnya internet, agar jangan sampai bahkan mahasiswa ITB sendiri tidak mengetahui kebenarannya,.

Berdasarkan pemaparan perwakilan IMG pada rapim berikut kronologis secara garis besar peristiwa yang terjadi, perlu diingat bahwa berikut adalah versi pada hari Senin (09/02/09) yang tentunya akan mengalami perubahan sesuai perkembangan informasi dan penyelidikan ke depannya,.

Dwiyanto Wisnugroho, yang akrab dipanggil Wisnu (mohon maaf jika terdapat kesalahan) merupakan salah satu peserta rangkaian proses pembinaan anggota baru IMG yang akan ditutup dengan acara akhir di Lembang,.

Acara tersebut didampingi tim dari AMP, yaitu suatu kesatuan medis dari rekan-rekan mahasiswa kedokteran UnPad yang memang sering dilibatkan dalam agenda-agenda kemahasiswaan ITB (HMIF sendiri pernah melibatkan mereka). Sebelum keberangkatan, rekan-rekan AMP telah melakukan tes medis untuk memastikan kesehatan seluruh peserta, termasuk Wisnu,.

Berangkat sekitar pukul 09.00 menuju TKP dengan menggunakan angkot yang dipesan hingga Dago Bengkok dan dilanjutkan dengan berjalan kaki menanjak sejauh kira-kira 800 meter,.

Hingga sekitar 400 meter pertama, Wisnu mulai roboh dan dipapah pada paruh kedua perjalanan sambil beristirahat di bawah pengawasan panitia,.

Setibanya di lokasi, detil peristiwanya tidak begitu ingat, yang pasti sempat beristirahat dan tentunya panitia memberi perhatian lebih kepada Wisnu yang tadi sempat menunjukkan gejala kurang sehat mengenai motivasinya untuk melanjutkan acara juga kesiapan secara fisik dan mental,.

Hal yang sempat diingat adalah, sebelum akhirnya mendekati waktu keberangkatan ke lokasi acara berikutnya, Wisnu sempat diminta memikirkan masak-masak untuk melanjutkan atau tidak, dengan panitia membiarkannya di sebuah ruangan sendirian dan meminta beberapa rekannya untuk mengajaknya berdiskusi. Dan sempat terjadi beberapa peristiwa sehingga panitia meragukan ketidaksehatan Wisnu dan memang Wisnu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan acara,.

Hingga akhirnya sekitar pukul 21.00 persiapan berangkat ke rute outbond dan sebelumnya telah diperiksa kembali kesehatan peserta dan dengan berbagai rangkaian yang ada. Wisnu sempat menunjukkan beberapa gejala gangguan kesehatan, mulai dari buang air besar dan mengeluarkan busa dari mulutnya, hingga akhirnya sekitar pukul 03.00 dini hari Minggu Wisnu tumbang,.

Panitia pun memutuskan mengistirahatkan dan memberikan pertolongan pertama kepada Wisnu sebelum akhirnya menjelang pukul 06.00 akan dilarikan ke rumah sakit, namun ternyata Wisnu telah tiada,.

Itulah kronologis yang paling mendekati kebenaran, terlepas dari berbagai berita yang beredar di media, berita ini langsung dari sumber yang terlibat di lokasi,.

Setelah peristiwa itu, pihak IMG segera mengontak Kepala Program Studi Teknik Geodesi dan pihak keluarga, juga membantu prosesi pemakaman jenazah aLmarhum bersama rekan dari kabinet KM ITB yang baru selesai pukul 23.00,.

Hingga saat ini, belum ada bentuk tuntutan dari pihak keluarga, namun hal yang pasti, jika memang ada tuntutan, maka itu berupa pidana dan memerlukan otopsi jenazah Wisnu sebagai landasan pasti,.

Dan yang akan dilakukan oleh KM ITB adalah membantu mengkondisikan isu yang beredar di kampus agar tidak melenceng dari kebenaran dan mengarahkan pihak luar yang ingin mengetahui soal kasus ini agar menghubungi WRMA (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni), karena telah disepakati bahwa jalur informasi dari luar ITB adalah melalui WRMA,.

Selain itu, sedang dilakukan penelusuran mengenai bukti-bukti yang mendukung kejelasan penyebab meninggalnya Wisnu, karena jelas bukan aktivitas fisik yang berlebihan atau kekerasan yang menjadi penyebabnya. Pencarian info mengenai proses hukum dan medis terkait peristiwa ini juga masih dilakukan, karena mahasiswa ITB notabene-nya tidak punya pemahaman mendalam mengenai kedua bidang tersebut,.

Sejak Senin siang, pihak kepolisian mulai terlibat dalam penyelidikan kasus ini, meski belum diketahui siapa yang melibatkan mereka, karena jelas hal ini akan berdampak pada sifat pidana pada perkara tersebut,.

Reaksi pihak WRMA yang mewakili ITB terhadap hal ini adalah akan diadakannya sidang penentuan siapa yang paling bersalah dalam kasus ini yang akan dihadiri oleh rektor sebagai hakim dan komisi disiplin ITB sebagai penuntut, namun belum dipastikan kapan dan bagaimana mekanisme pembelaan terdakwa, yaitu pihak IMG, dalam hal ini,.

Semoga peristiwa ini tidak memberikan kesan buruk di kalangan luar terhadap mahasiswa ITB, juga tidak menghancurkan pergerakan yang selama ini dibangun,.

WeLL, just another obstacle, a big one,.

95 comments so far

  1. Adi P. Sujarwadi on

    PertamaX?

  2. Adi P. Sujarwadi on

    untung pas sparta ga kenapa2 ya…
    kalo ngga..keknya Om John sekarang udah nikah mungkin..

  3. yudiwbs on

    Saya dulu ketua bantuan medis saat OS IF95 (tahun 96), jadi mungkin bisa cerita sedikit. Ini langkah-langkah yang dulu saya lakukan. FYI, pada tahun itu OS IF termasuk yang paling ringan dan paling singkat di ITB.

    Sebelum acara dimulai OS (sekitar 2 minggu sebelum acara akhir), panitia meminta data kesehatan peserta dari ITB. Dalam data tersebut terdapat sejarah penyakit berat. Kemudian dilakukan pengecekan satu persatu yang dilakukan oleh dokter (dokter muda, tapi sudah lulus KOAS). Peserta yang paling parah seingat saya punya dua penyakit: baru sembuh TBC dan cedera punggung. Dari awal peserta ini kerjanya hanya menunggu, sama sekali tidak ada kegiatan fisik (lari saja tidak boleh).

    Kemudian dokter juga dilibatkan di acara yang dianggap berat, satu di kampus dan satunya acara akhir di luar kota. Untuk di dalam kampus waktu itu sampai ada 4 dokter dan pada saat acara akhir ada 2 dokter (dan mereka ikut longmarch).

    Ada beberapa kejadian saat acara akhir, pertama ada peserta yang pingsan saat longmarch, setelah diperiksa dokter, ternyata hanya kelelahan dan hanya perlu dievakuasi ke basecamp. Saat malam puncak juga ada beberapa peserta yang pingsan. Jadi disini dokter berperan sebagai pengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan panitia (apa hanya perlu diistirahatkan atau perlu bawa ke RS?) dan memberikan pertolongan pertama.

    Pada tahun 96 itu satu mahasiswa Fisika meninggal saat acara akhir.

    Kalau dari pemaparan mhs IMG diatas, menurut saya panitia sudah lalai karena tidak melibatkan dokter. Pengambilan keputusan apakah peserta layak untuk ikut bukan ditangan panitia atau peserta, tetapi dokter. Kalau peserta ditanya, pasti jawabnya akan minta terus karena malu.

  4. petra on

    turut berduka cita juga,

    jadi tercerahkan atas ceritanya ^_^

  5. yohanes on

    Salam,

    [quote]
    Semoga peristiwa ini tidak memberikan kesan buruk di kalangan luar terhadap mahasiswa ITB, juga tidak menghancurkan pergerakan yang selama ini dibangun,.

    WeLL, just another obstacle, a big one,.
    [/quote]

    Semoga saya salah. Tapi kata2 anda seakan2 ingin mengatakan bahwa hilangnya nyawa kolega Anda seperti sebuah “pencorengan” dan “penganggu pergerakan”. Semoga bukan itu yang anda coba sampaikan.

    Saya tidak tahu seberapa harga “pergerakan” yang anda maksud, tapi saya tahu harganya nyawa seorang manusia.

  6. abe on

    mudah-mudahan dengan salah satu artikel di blog ini, media dan tanggapan masyarakat gak salah lagi. soalnya kemaren pas gw liat di tempointeraktif, banyak yang mengomentari secara negatif. emang aneh ya, berita di situ emang belum jelas sih, seperti bagaimana sang mahasiswa meninggal dan sbagainya, tapi yang bikin gak enak hati gitu, tanggapan masyarakat di situ, entah kenapa mayoritas negatif. langsung nge-judge itb begitulah itb beginilah.. hufhh..

  7. nass on

    Kelimax!

    pas pertama dengar kaget luar biasa, ternyata nama korban DWIYANTO, bukan DWINANTO..

  8. melur on

    turut berduka cita atas meninggalnya rekan GD ITB 2007.
    semoga segala amal baiknya diterima di sisi AllahSWT.
    dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
    semoga apa yang salah dapat diluruskan juga dan tidak menimbulkan pencemaran nama baik terhadap ITB.

    Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.

    Melur Pinilih
    AR ITB 2003

  9. elkana catur on

    dengan alasan apapun…
    telah terjadi sebuah kesalahan..
    panitia membiarkan seorang peserta meninggal adalah bentuk kegagalan pelaksanaa acara OS dan ketidak mampuan panitia dalam menjaga pesertanya…
    memang takdir yang berbicara di sini
    tapi takdir terasa kalau sudah terjadi..sebelum itu terjadi antisipasi tetap harus dilakukan
    mohon maaf ya.. saya dulu juga tukang Ospek di ITB..
    dan menurut saya Ketua Ospek, Ketua Himpunan dan Danlap musti bertanggung jawab…apapun bentuknya,…
    karena nyawa seorang KAWAN (bukan mahasiswa baru) telah hilang akibat kegagalan mengorganisasi acara..
    saya turut sedih.. negara ini telah kehilangan 1 mahasiswa ITB yang mungkin saja dapat berbuat banyak untuk masyarakat…

  10. dhika on

    To, koq belum denger klarifikasi resminya ya?

    Klo baca2x berita dari internet, tv n media cetak kesan pertama adalah Wisnu meninggal karena kekerasan/siksaan OSPEK…

    Semoga masalah ini bisa diselesaikan dengan baik n transparan, n ga berimbas buruk pada pergerakan mahasiswa

  11. kusumawardati on

    sepantasnya kita semua bersikap bijaksana dan adil. katakanlah yang benar. bukan hanya tentang kemahasiswaan yang terancam, tapi juga fakta yang menyangkut nyawa manusia. karena bagaimanapun juga, kemanusiaan harus diutamakan.

  12. dwinanto on

    @Adi: Ini sebuah peringatan untuk lebih berhati-hati ke depannya, khususnya menyangkut keselamatan,.

    @yudiwbs: informasi baru nih, bertambah lagi pengetahuan mengenai sejarah masa lalu. Tapi memang ada sejumlah kesalahan dari pihak panitia, meskipun demikian, harus dipahami bahwa sama sekali tidak ada tindak kekerasan di dalamnya,.

    @petra: Ho2, sama2,.πŸ™‚

    @yohanes: yang menjadi tantangan adalah bagaimana agar mahasiswa, bukan hanya ITB, lebih berhati-hati dalam setiap derap langkahnya, karena kita semua berada dalam satu kesatuan, apalagi menyangkut masalah nyawa, hal ini merupakan suatu kehilangan yang besar tentunya,.

    @abe: Iya sih, sebenarnya memang masalahnya adalah pewacanaan di media merupakan hal yang krusial dalam pengendalian massa,.

    @nass: iya, saya juga sempat kaget,.πŸ˜€

    @melur: amiiin,.

    @elkana: masih perlu diketahui secara pasti penyebab peristiwa ini agar dapat dipastikan pihak mana yang bertanggungjawab,.

    @dhika: kLo tidak salah, Selasa (10/02/09) pukul 11.00 Bapak Djoko mengadakan press release deh,.

    @kusumadiati: Setuju, akan tetapi jangan juga hal itu menjadi landasan untuk memberikan tuduhan tanpa dasar,.

  13. syafiq on

    Mas Dwi,

    Setahu saya, kasus seperti ini bukan delik aduan. jadi tidak memerlukan sebuah tuntutan atau laporan dari pihak yang merasa dirugikan.

    Selanjutnya, bukankah seharusnya tim medis dapat melihat tanda-tanda fisik/medis dari Wisnu dan dapat memutuskan apakah Wisnu dapat melanjutkan kegiatan atau tidak, bukannya malah bertanya kepada wisnu untuk memikirkan masak-masak masih mau lanjut atau tidak. Toh, mereka juga telah menyadari bahwa Wisnu telah kepayahan dengan memisahkan dari rombongan dan menanyakan kondisinya. Pada saat seperti itu banyak dari mereka yang merasa “malu” kepada temannya jika tidak bisa melanjutkan bersama.

    Semoga dapat menjadi pelajaran, nyawa itu pinjaman Tuhan dan tidak bisa dinilai dengan apapun. Ataukah mahasiswa ITB telah menjadi lebih buruk dari keledai karena jatuh berulangkali pada lobang yang sama – ini bukan pertama kalinya mahasiswa ITB meninggal saat ospek.

    Salam.

  14. Rachmad K on

    Terserah mau alibi gimana. Seandainya tidak ada ospek ilegal yg primitif ini apakah dia akan meninggal seperti ini….basiiii…di indonesia nyawa emang ngga ada harganya.

  15. Taruma on

    apakah mungkin faktor kesehatan psikologisnya juga berpengaruh?
    hmm. siapa yang tahu? semoga almarhumah diterima ibadahnya. amin.

    “disaya” pun ada acara yang serupa. Hanya, sebelumnya kami dilatih untuk menghadapi acara tersebut. Yah, saya berharap semoga hal ini dipetik disemua institusi.

    (saya juga buat opini saya ttg kasus ini di blogsaya)

  16. wiwid84 on

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

    Semoga keluarga alm semoga diberikan kesabaran juga ketabahan.
    Untuk keluarga besar ITB , semoga dimudahkan untuk kedepannya,dan kasus ini segera mendapat kejelasan.
    Karena banyak sekali berita simpang siur yang menyudutkan kampus ITB khususnya kegiatan kemahasiswaan di dalamnya.

    Salam,
    Wiwid
    FSRD-02

  17. agung on

    sebaiknya mencari kebenaran langsung dari pihak yg bener2 tau masalahnya.daripada mencari tw lewat pers yg nyata2nya TAI KUCING!!!!!

    -agung IMG 03-

  18. dwinanto on

    @syafiq: betul sekali, oleh karena itu diperlukan dulu kepastian apakah yang menjadi penyebab kepastian almarhum, apakah karena kesehatan yang tiba2 memburuk atau bagaimana, karena hasil tes medis pun tidak menunjukkan tanda negatif. jangan2 ini sekedar ‘kehendak’ Yang Maha Kuasa,.

    @Rachmad: Hampir bisa dikatakan demikian, akan tetapi alangkah baiknya jika kepergian nyawa itu adalah dengan cara yang baik, bagi pihak yang ditinggalkan dan pihak yang meninggalkan,.πŸ™‚

    @Taruma: bisa jadi, karena pihak IMG sedang menelusuri bukti yang merujuk kepada kemungkinan tindakan pencelakaan diri sendiri,.

    @wiwid: betul sekali, semoga hal ini bisa segera memperoleh titik terang jangka panjang, karena bukan hanya akan berpengaruh pada kalangan IMG semata, melainkan seluruh kemahasiswaan ITB,.

    @agung: sepakat,.

  19. bang.kuder on

    wahh.. untung bukan dwinanto bisa2 tutup itb…

  20. dwinanto on

    Jangan sembarangan, Om,.πŸ˜›

  21. ade kelasnya korban on

    hadu..
    kakak klas saya..
    padahal orangnya baik banget tuh..
    huff

  22. Mamad on

    @ Rachmad

    saya rasa proses ospek ini adalah suatu pembekalan yang nantinya akan sangat berguna di masa depan..

    seandainya tidak ada ospek seperti ini mungkin di era mendatang akan sangat sulit menemukan seorang pemimpin yang memiliki mental baja..

    yang ada hanya seorang pemimpin yang takut dengan bisikan pribadinya dan takut akan kebenaran yang dia lakukan..yang ujung2nya yang ada hanyalah pemimpin yang hanya memikirkan dirinya sendiri..

    @untuk kita smua
    dengan adanya kejadian ini, adanya faktor x yg menjadi penyebab harus lebih diperhatikan ke depannya..

    apabila faktor psikologis (seperti menyimpan rasa malu sendiri atau apapun)marilah diskusikan kembali.. selain libatkan tim dokter alangkah baiknya apabila melibatkan pula para psikolog dalam kegiatan seperti ini..

  23. erikeren on

    setuju ama bung rachmad, semua ospek di ITB “HAMPIR” nggak ada esensinya, primitif, jadul, ikut2 angkatan atas, nggak pernah ada suatu yang baru yang bener2 berguna hasil buah pikiran otak panitia itu sendiri yang dipikir bener2 mateng semateng matengnya.

    Hentikan segera ospek primitif di ITB!!! mahasiswa tidak perlu kegiatan yang bersifat ke gunung or whatever is that (kecuali mungkin anak PA). mending ospek yang bener2 menggambarkan. hidup dosen2 ITB yang udah buat peraturan sedemikian rupa untuk melindungi seluruh mahasiswanya.

    go to hell buat para wartawan yang udah bikin berita sampah yang cuman buat nama ITB terpuruk.

  24. Joel on

    sedih..
    hal kaya gini harus terjadi…semoga semua pihak dapat berpikir secara jernih dalam menyikapi masalah ini.. tidak ada keputusan yang terburu-buru dalam memutuskan sanksi bagi pihak2 terkait..

  25. kzcl on

    lagi2 to…
    birokrasi ini….
    ckck…πŸ˜€

  26. agrit on

    Hoo gitu toh ceritanya.. Untung gw baca status lo di facebook to.. Hehe..

    Well, gw gak tau mau bilang apa tentang OS di lingkungan ITB.. Cuma semoga aja hal ini gak kejadian lagi baik di ITB atau di kampus manapun..

    Gw turut berduka cita atas apa yg terjadi.. Semoga temen2 di ITB bisa ngambil pelajaran dari peristiwa ini..πŸ˜‰

    Cheers

  27. david on

    “Hingga akhirnya sekitar pukul 21.00 persiapan berangkat ke rute outbond dan sebelumnya telah diperiksa kembali kesehatan peserta dan dengan berbagai rangkaian yang ada. Wisnu sempat menunjukkan beberapa gejala gangguan kesehatan, mulai dari buang air besar dan mengeluarkan busa dari mulutnya, hingga akhirnya sekitar pukul 03.00 dini hari Minggu Wisnu tumbang,.

    Panitia pun memutuskan mengistirahatkan dan memberikan pertolongan pertama kepada Wisnu sebelum akhirnya menjelang pukul 06.00 akan dilarikan ke rumah sakit, namun
    ternyata Wisnu telah tiada,.”

    maaf kronolgis yang anda paparkan tidak tepat dan meleset,
    sebaiknya anda tidak perlu membeberkan kronologis sebelum rilis dari IMG sendiri sebab tulisan anda tidak lebih baik dibandingkan tulisan media online lainnya.

    david img’03

  28. arinvsfayra on

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

    Ntar deh Insya Allah yah… saia coba publikasi-in kronologis yang baru saia baca dari blog ini… siapa tau bisa bantu netralisir tanggapan publik baru2 ini yang sedikit negatif tentang mahasiswa ITB…

    sabar, sabar!

  29. MZ on

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…

    kronologisnya hampir mirip dari apa yang saya dengar…
    terlepas dari takdir rejeki, jodoh, dan maut itu ada di tangan tuhan, namun setidaknya jangan sampai menyalahkan pihak tertentu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya (hanya tahu kejadian simpang siur lewat media)

    perlu diketahui anggota AMP adalah para dokter muda KOAS FK Unpad yang memiliki keahlian pecinta alam, jadi mereka sudah digembleng selain pengetahuan medis, juga kemampuan survival selama beberapa tahun. Jadi kredibilitas mereka sebagai back-up medis pada saat PPAB IMG (penerimaan anggota baru – bukan OS) cukup bisa dipercaya. Ketika mereka menyatakan seseorang tersebut dalam keadaan sehat, ya itulah kondisi fisik yang mereka diagnosa berdasarkan data medis saat itu juga. Dan pihak AMP pun (supervisornya) sudah memberikan keterangan bahwa kematiannya itu kemungkinan (karena tidak ada otopsi dan tindakan yang bisa mengakibatkan kematian) dikategorikan sebagai sudden death yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

    Jadi mari kita tunggu hasil penyelidikan kepolisian saja, jangan mempercayai media / pihak ITB yang terkesan lepas tangan (terbukti menyalahkan pihak IMG, Memberhentikan ketua Prodi, dan bahkan Orang Tua Korban -> saya benar2 tidak habis pikir!!!) Apa maunya? Hanya ada satu pihak yang benar, dan ini pun kapasitasnya bukan sebagai eksekutor, karena ini seharusnya petugas kepolisian yang mencari fakta, dan pengadilan yang bisa memutuskan bersalah atau tidak!

    Terimakasih banyak!

  30. Rachmad K on

    Ungkapan anda : “Hampir bisa dikatakan demikian, akan tetapi alangkah baiknya jika kepergian nyawa itu adalah dengan cara yang baik, bagi pihak yang ditinggalkan dan pihak yang meninggalkan,.”
    saya apresiasi, tapi cara baik ngga cuman waktu pemakaman doang. IMG harus bertanggung jawab terhadap keluarganya, mulai sekarang mulailah menabung, trus kedua orang tua dwi masa tuanya harus digantikan perannya sehingga mereka dapet menikmati masa tua seperti halnya bila anaknya belum meninggal, tiap bulan IMG harus memonitoring dan memberikan bantuan tersebut. Tapi itu tetap ngga banyak berarti karena IMG tidak akan bisa memberi cucu yg bisa menyenangkan mereka. Itu baru namanya ngebantu. udh ah muak gw dengar alibi2 basi gini, yg sedikit lebih baik dibanding IPDN.

  31. Nunu on

    wew kk wew…
    entah kenapa ya, anak2 GD kalo ditanyain soal ini jawabnya selalu : tunggu publikasi resmi dari IMG… :hmmm:

    Terus terang ada salah satu temen SMA si sayah yang masuk GD dan akhirnya mengundurkan diri dari ITB gara2 paktor ospek.
    Soalnya emang ospeknya berat (salah satu temen saya yang lain sampai kakinya retak) dan kalo nonhim di GD itu sama aja “bunuh diri” karena kuliahnya banyak di lapangan.

    Kembali lagi ke tujuan ospek itu apa sih???
    Untuk mengakrabkan sehingga semua punya rasa solidaritas, kebersamaan, dan gak egois atau oportunis kan?
    Jadi ya gak perlu lah ospek yang berat2, cukup ospek yang ringan cem anak2 IF… kekekeke
    Esensinya apa mesti diospek secara fisik?
    Toh tujuannya sama ma ospek ringan2 cem anak IF.

    Di jurusan sayah (TI), angkatan sayah yang terakhir diospek serius…mulai angkatan 2004 ospeknya ringan banget. Emang buat panitia ospek sih rasanya tahvavah n garing banget, tapi tujuan dari ospek yang beneran sama yang tahvavah kan toh sama ajah.

    Maap kalo ada kata2 yang gak berkenan.
    Sebaiknya emang dah saatnya kita ubah ospek serius menjadi ospek ringan berupa silaturahmi yang walaupun terasa tahvavah bagi panitia, namun yang penting tujuan dari ospek itu tercapai. Waktu si sayah ospek jurusan dolo, ada panitia yang ngasi pesan & kesan di semua buku perkenalan anak 2003 kek gini : sebaiknya ospek ditiadakan saja.
    Wkwkwk lucu emang, panitianya nulis kek gitu…tapi ya ada benernya juga. Sebaiknya ospek serius ditiadakan saja, n diganti ma ospek ringan yang walaupun tahvavah tapi yang penting tujuannya kecapai.

    Fiuh, capek juga nulis…

    -Mentalitas jangker-

    Nunu
    TI 03

  32. hjaya on

    Saya alumni Teknik Informatika ITB 02. Menurut saya, ospek itu adalah proses untuk mengubah manusia biasa menjadi kader (dalam hal ini adalah kader himpunan). Kader adalah tulang punggung organisasi. Mengenai tulang punggung yang seperti apa yang diperlukan oleh organisasi tersebut, tentu berbeda antar himpunan satu dengan himpunan lain.

    Yang saya sayangkan adalah (mungkin) kekurangtegasan panitia untuk melarang Wisnu mengikuti kelanjutan acara. Pengalaman saya, jarang sekali mahasiswa baru yang mau jujur kalo dia “tepar/mampus”. Sehingga, mereka tetap memaksakan diri. Dalam soal ini, seharusnya panitia yang lebih tegas untuk melarang mahasiswa baru tersebut.

  33. vivian on

    turut berduka cita, btw hebat nih mas blog nya masuk 100 besar di wp english

  34. ferry on

    turut berduka cita sedalam-dalamnya..

  35. MZ on

    kalo ga tau apa2 ga usah ikut ngehujat.
    itu yang basi banget!

  36. dwinanto on

    @adikKelasnyaKorban: Turut berdukacita,.

    @mamad: betul sekali, tapi alangkah baiknya jika memang proses tersebut tak perlu memakan korban secara fisik,.πŸ™‚

    @erikeren: tampaknya memang perlu diklarifikasi dulu ke pihak terkait seperti apa sesungguhnya proses yang dilakukan, jangan sampai terjadai justifikasi sebelum mengetahui fakta selengkap dan sebenarnya,.

    @joel: betul sekali, jangan sampai peristiwa ini tidak menjadi pembelajaran ke depannya dan hanya sekedar kasus yang berlalu dengan hukuman berat semata,.

    @kzcl: birokrasi memang kadang mengesalkan, tapi bukan berarti tak perlu,.πŸ™‚

    @agrit: setuju, tapi persepsi tetap tak dilarang,.πŸ˜€

    @david: mohon maaf jika terdapat kesalahan, karena memang keterbatasan dalam penangkapan maksud yang disampaikan rekan IMG pada saat forum bersama lembaga kemahasiswaan di kampus. kekhawatiran yang muncul adalah, ketika berlarut-larut menunggu klarifikasi adalah semakin berkembangnya isu yang tidak benar, setidaknya saya mencoba memaparkan apa yang saya pahami, silahkan dikoreksi jika terdapat kesalahan,.πŸ™‚

    @arin: terima kasih banyak,.

    @MZ: setuju, memang bukan diperlukan fakta seutuhnya, tapi setidaknya jangan sampai fakta itu muncul terlambat ketika isu dari media telah merajalela membentuk pandangan negatif,.

    @Rachmad: memang bukan hal yang bisa diberika solusi tertentu, namun setidaknya pencarian kebenaran adalah salah satu pilihan cukup tepat,.

    @Nunu: keperluan ospek adalah pembentukan karakter yang sesuai dengan kebutuhan, dengan kondisi berbeda, maka bisa jadi proses yang muncul berbeda pula. namun bukan berarti kita selalu harus mengandalkan langkah keras dalam pembentukan itu,.

    @hjaya: waduh, ampun kk,. memang seharusnya demikian, namun mungkin perbedaan kultur dan kondisi yang menjadikan hal tersebut luput dari pengamatan panitia,.πŸ™‚

    @vivian: oh ya?? belum dicek sih,.πŸ˜€

  37. yudiwbs on

    @MZ, sorry istilah “dokter muda KOAS” itu maksudnya apa ya? soalnya setahu saya sih kalau belum beres Koas belum bisa disebut dokter deh, cmiiw. Di berita dan pernyataan dari IMG di blog ini juga nggak pernah disebut istilah dokter. Ini kutipannya “.. Acara tersebut didampingi tim dari AMP, yaitu suatu kesatuan medis dari rekan-rekan mahasiswa kedokteran UnPad… “.

    Masalahnya, kasus anak fisika 96 yg meninggal dulu juga karena mereka nggak bawa sama sekali tenaga medis. Bagiannya bantuan medisnya cuma mhs yang pernah ikut kursus semacam P3K gitu. Dan meninggalnya juga buka karena kekerasan, tapi karena sakit terus diceburin di kolam yang dingin (cmiiw lagi). Enaknya waktu itu masih jaman pak harto, nggak diblowup dan nggak ada polisi.

    Jadi Saya setuju sekalian aja dibahas habis-habisan (blog,koran,tv), biar nggak terulang lagi. Saya udah punya anak sekarang, nggak kebayang kalau itu terjadi dengan anak saya.

    13594022

  38. Rachmad K on

    @yudiwbs
    Saya juga insyaAllah udh hampir punya anak 2. Yang pertama cantik dan lucu. Sama2 ngga kebayang klo terjadi dengan anak saya. Daripada cape mikirin IMG mendingan aku belajar teknik yoyo terbaru aja deh, bisa bikin anak terkagum2. Salam kenal buat yg punya blog

    10296054

  39. MZ on

    @yudiwbs

    iya saya sependapat memang acara OS serius yang saya alami bertahun-tahun lalu sudah seharusnya disesuaikan dengan kondisi dan tuntutan Zaman..dan yang saya lihat memang ternyata seuai dengan anak zaman sekarang banget (maaf kalo ada yang tersinggung) acara PPAB nya hanya berbaris, berjalan, dan menyanyi….wow…..sesuatu yang ga mungkin saya sempat pikiran waktu berstatus peserta…

    makanya saya juga heran ko sampe ada yang meninggal begitu, oleh karena itu saya TIDAK SETUJU sekali kalau sampai banyak sekali pihak yang menyalahkan (ITB, media, kawan ITB) dan pihak yang disalahkan (orang tua korban -begitu ITB menyebutnya-, panitia -3orang pemegang jabatan tertinggi, ketua prodi -yang langsung dicopot begitu saja-, dan alumni -sumber : detik & konferensi press ITB-yang seharusnya lebih bijak dalam mengeluarkan statement dan menindaklanjuti kasus ini-karena untuk apa mereka jadi pucuk pimpinan, kalau terkesan kebakaran jenggot dan ingin lepas tangan)…karena sekali lagi mengacu pada pernyataan supervisor AMP : bahwa kemungkinan terjadi sudden death (sumber detik, akan tetapi, mengingat media pun saat ini belum bisa dipercaya, mendingan kita dengar penjelasan lebih lanjut dari Panitia, AMP (sbg saksi ahli)…jangan langsung main tunjuk hidung…

    bagaimanapun hati siapa yang tidak sedih, kalau kehilangan orang yang dicintai, oleh karena itu safety procedure selalu menjadi slogan nomor 1 di acara OS (saya kira dimanapun, bahkan perusahaan aja selalu berslogan : safety comes first)…saya yakin semua pihak yang terkait dan yang berada di tempat kejadian juga sangat berduka dan merasa terpukul atas kejadian tsb, saya pun sedang menunggu kronologis sebenarnya tanpa ada intervensi dan bumbu dari pihak manapun.

    Saya hanya menghimbau agar pihak rektorat, think twice before u act! jangan mengamputasi tangan, kalau tangannya keseleo! pasti selalu ada jalan yang lebih baik.

  40. Rachmad K on

    @Mamad
    Sok tau anda, klo mental baja itu di bentuk dari os. Emang obama di os? emang khalifah abu bakar di os? Tolong belajar banyak lagi mas. Doktrin inilah yg emang selalu muncul saat di os, dan anda orang yg patut dikasihani karena masih memegang prinsip ini.

  41. MZ on

    @Rachmad

    setuju…
    proses pendewasaan berpikir bisa diambil di mana saja…mentoring keagamaan, arena persaingan, dll

  42. mita IMG '04 on

    @ nunu

    mba nunu, ospek IMG dilihat dari sisi historis emang keras. TAPI ITU DULU! sejak tahun 2005, karena satu dan lain hal, para pengurus IMG sepakat untuk melakukan perubahan metode secara signifikan.

    harap dipahami bahwa komentar-komentar minor tanpa dasar pengetahuan yang cukup dari suatu pihak mampu membangun opini publik yang minor pula.

  43. david on

    menurut hemat saya anda tidak berwenang memaparkan yang kami alami dan saya lihat apalagi ini blog pribadi terkesan tulisan ini hanya untuk menarik orang beramai-ramai membaca blog dan membuat komentar2 yang sok tau dan terus terang menyakiti hati saya pribadi sebagi saksi kejadian (pertamax, keduax,….kelimax kalian kira ini thread dikaskus….sampah!)

    dan sampaikan kepada kroco2 KM ITB yang memberikan list 53 alumni pada rektorat yang mereka minta untuk bisa dikontak…..”akan saya cari anda sampai lubang semut sekalipun untuk diminta pertanggung jawaban anda”

  44. Bayu on

    saya mengucapkan turut berduka cipta bagi keluarga yang ditinggalkan.

    Memang sangat disayangkan peristiwa ini bisa terjadi.
    Bila saya mengingat waktu saya ospek dulu,
    pencegahan terjadinya kecelakan menyerupai yang
    sudah diceritakan mas yudiwbs, tidak ada paramedis hanya ada anggota yang sudah dilatih p3k. Itupun bukan pelatihan yang mendalam.

    Oleh karena itu saya bersyukur, selama saya menjadi peserta maupun panitia tidak terjadi kecelakan apapun. Karena ternyata hal tersebut masih jauh sangat kurang untuk menjaga nyawa manusia.

    Semoga hal ini dapat diambil sebagai hikmah bagi semuanya.

    Semoga amal ibadah Dwiyanto diterima disisinya.

    Bayu
    TI 03

  45. yudiwbs on

    @david: Hati boleh panas, kepala tetap dingin OK?
    Gaya penulisan seperti itu tidak akan membantu, malah membuat pihak anda semakin terperosok.

    Lebih baik sesuai kata dwinanto, silahkan koreksi bagian yang menurut anda salah (apalagi anda saksi langsung) atau segera buat pernyataan resmi versi him. Saya maklum mungkin membutuhkan waktu, tapi kalau terlalu lama akan semakin membuat orang lain bertanya-tanya. Kita bukan lagi hidup di era koran kertas yang beritanya muncul 1-2 hari setelah kejadian dan beberapa hari kemudian langsung dilupakan.

  46. MZ on

    @ David:

    HAJAR beuh!!!!
    kemahasiswaan sekarang, penjilat kau!

  47. Rachmad K on

    @david
    Alakh baru jadi saksi kejadian aja udh sakit hati. Klo emang lu berjiwa besar kayanya ngga akan sempat sakit hati karena hati anda sibuk memikirkan perasaan keluarga korban yg telah remuk redam karena ditinggal oleh orang yg mereka cintai. Katanya klo di os menciptakan kebersamaan. Tapi kok anda egois gini, dalam kondisi kaya gini mikirin perasaan sendiri.

  48. hikayebirbeyaz on

    @syafiq
    menurut saya kembali kepada almarhum tentang pilihannya untuk melanjutkan ospek atau tidak, bayangkan anda sedang sakit dihari sebelum wisuda anda. Apakah anda akan dengan pasrah melewatkan moment yang mungkin menjadi kebanggaan anda dalam hidup?? mungkin itu yang dirasakan alm. dia merasa melewati ospek bersama rekan-rekannya menjadi kebanggan buat dirinya. (atau mungkin saya salah? hanya almarhum yang mengerti).

    @Rachmad K
    memangnya anda tau dari mana Obama tidak di OS??… (just kidding). Dilihat dari manapun Obama atau bahkan Khalifah abu bakar mengalami pengalaman hidup yang lebih berat dari sekedar OS. Menurut saya pribadi OS itu dilakukan sebagai simulasi terhadap mahasiswa baru tentang kondisi yang akan mereka hadapi di lapangan (cmiiw), dan mental baja apakah didapat dari OS atau bukan ,itu kembali ke pribadinya masing-masing. Saya sendiri menjadi lebih tahan bentakan, dan tahan ancaman (baca lebih bermental) ketika mendapatkan OS di SMA.

    @david
    jika memang penulis tidak berhak menuliskan ini di media yang bisa dibaca oleh banyak orang, apakah hal itu telah diberitahukan terlebih dahulu kepada penulis?? baik secara lisan atau tulisan. Menurut saya sangat tidak bijaksana jika malah melempar kambing hitam dari pembicaraan ini kepada penulis. tetapi apabila penulis memaparkan hal yang menyimpang, sebaiknya diluruskan mengingat anda sendiri menekankan bahwa anda adalah saksi kejadian.

  49. Mamad on

    @ Rachmad

    Mungkin Os yg anda pikirkan identik dgn kontak fisik..namun betuk proses os yg saya maksudkan bukan seperti itu..
    Saya setuju dgn penryataan MZ..

  50. Aci on

    Heran saya sama anak IMG….
    Blog mas Dwinanto ini cukup memberi penjelasan yang berkualitas dibanding detik.com.:) Sebelumnya saya cuma dengar kabar simpang siur dari media yang jelas2 memojokkan ITB, IMG, dan pihak yang bersangkutan. Mangga atuh Kang David ato anak2 IMG yang lain, jelaskan faktanya di lapangan bagaimana… jangan sampai opini publik yang terbentuk sama seperti opini saya sebelum baca blog ini. jangan hanya menghujat! apa bedanya kalian sama rektorat?
    sebenernya, OS penting ga sih?? penting banget, kerasa kok manfaatnya setelah masuk jurusan. ayo kita sama sama memperbaiki OS di ITB, nggak perlu lah main fisik….primitif!!! ngakunya kalangan intelek, harus pake cara yang intelek juga dong buat membina kader baru.

    Salam Ganesa!!

  51. dwinanto on

    @yudiwbs: Ternyata senior saya, salam kenal, Mas,. Memang bukan hal yang sewajarnya terjadi dalam proses pembinaan anggota, sehingga perlu ada suatu pencegahan, namun jangan sampau timbul salah persepsi,.

    @Rachmad: salam kenal juga,. Memang setuju dengan apa yang diungkapkan, tapi tetap saja pembelajaran perlu,.

    @MZ: tapi jangan sampai kita malah membatasi media pembelajaran yang sudah ada,.πŸ˜€

    @mita: setuju sepenuhnya, mahasiswa kini telah berubah,.

    @david: memang bukan fakta yang sepenuhnya benar, akan tetapi apakah anda merasa bahwa media yang beredar di luar dengan berita-berita seputar kasus ini lebih baik dibiarkan begitu saja,. Ini sekedar pengungkapan fakta agar penyelewengan yang ada tidak begitu jauh,.

  52. Hendra Jaya on

    Saya cuma ingin menyampaikan.. tolong jangan marah-marah disini.. Ga ada gunanya, yang sudah pergi akan tetap pergi tidak kembali. Mari kita bicara dengan akal sehat dan itikad baik untuk mencari pemecahan.

    Saya sebagai alumni, merasa senang dengan adanya blog ini. Bagi saya, blog ini cukup membantu saya untuk lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi (Versi blog ini).

    Untuk selanjutnya, tolong ajukan solusi buat kebaikan bersama. It’s easy if you try.. (tapi saya ga ada ajuan solusi sihπŸ˜€ )

  53. miphz on

    Wowowowow… seru jg ternyata, akhirnya ada kasus besar yang harus menjadi pelajaran untuk senioritas bar-bar ini, harus ada tindak lanjut atau budaya ini akan terus berkembang tanpa batas…

    Salam perjuangan bagi yang anti kekerasan dalam ospek, dari saya yang telah menelaah tentang ospek semacam ini di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)

    http://miphz.wordpress.com/2008/12/24/crime-forensic-result-of-penyakit-mental-turunan-pab-ars-upi/

  54. Nozzy on

    wah2..kok kayaknya masih banyak yang pro dan kontra…nasi udah menjadi bubur..sekarang tetap saja tidak merubah kenyataan almarhum sudah berpulang…mau ada unsur kesengajaan ato ketidaksengajaan…

    Faktanya memang bukannya kegiatan osjur sudah dilarang oleh ITB??sampe2 kyknya harus kucing2an..nah tp sekarang tetap aja dilakukan dan terjadi “accident” yg membuat nyawa seseorang melayang..coba tebak salah siapa??ato mgkn masing2 orang tidak punya KACA di kos ato di rumah??Ngaca dunk..walo mungkin tidak ada unsur kekerasan unsur tekanan psikologis itu pasti ada…

    satu lagi, apakah perlu berjalan2 yg “cukup jauh” apalagi di cuaca yg kurang baik ini…saya kira klo alasannya melatih fisik bisa dilakukan di SABUGA saja :p

  55. dwinanto on

    @Hendra: Sepakat, Kang,. Solusi yang terpikir adalah pendekatan dari sisi keluarga yang ditinggalkan dan dari sisi kemahasiswaan itu sendiri,.

    @miphz: salam balik ya,. sejujurnya memang tidak ada kekerasan sama sekali di ospek mahasiswa ITB saat ini, namun memang berbagai tragedi seperti ini terus terjadi sebagai suatu batu sandungan bagi perubahan yang ada,.

    @Nozzy: memang tidak sepenuhnya salah bahwa penekanan dari sisi psikologis, namun bukan berarti hal demikian tidak diperlukan, jika memang dihilangkan, apakah sudah ditemukan solusi lebih baik untuk pembetukan karakter,.

  56. arimbi on

    setelah banyak bgt baca dan denger berita yg simpang siur, akhirnya nemu juga berita yg cukup mencerahkan. seharusnya emg cepet ada klarifikasi resmi dr pihak yg berwenang tentang kronologis kejadian sebenarnya. bener2 terlalu banyak berita yang enggak2 yg beredar, apalagi secara lisan. kalo kelamaan, keburu kebanyak spekulasi dan asumsi negatif yg muncul.

    setuju bgt deh, seharusnya cuma dokter yg berhak menentukan lanjut atau enggaknya peserta di acara. ga mungkin keputusan peserta ga terpengaruh kondisi mental saat itu.

    kalo emang terbukti demand dan urgency ospek emg segitu tingginya, ya bakal lebih aman kalo di legal in jd kan semua serba jelas prosedurnya. standar pengawasan bisa sangat diperketat, standar medis bener2 bisa ditingkatin.

    tp yg jelas, mau apapun alasannya, kejadian ini bener-bener mencoreng nama itb terutama kemahasiswaannya. realistis aja lah, emang orang indonesia suka gampang nge judge tanpa mau cari tau fakta yg akurat. jd ya, dr segala sisi, ambil pelajaran dr kejadian ini sebanyak2nya (entah itu masalah prosedur acara lapangan, esensi ospek, sampai status hukumnya).

  57. Rachmad K on

    @Hendra Jaya
    Saya yakin klo hal ini terjadi terhadap keluarga anda, anda tidak akan berkata se’bijak’ ini. Gimana kita mau memperjuangkan nyawa TKI yang disiksa dan dibunuh diluar negeri klo di kampus tercinta ITB aja kita ngga menghargai nyawa manusia. Besok2 klo ada TKI yg disiksa jangan marah2 kenegara lain yaaa…

    Solusi udh jelas buang aja tradisi os itu. Ngapain juga ada os. Saya heran berulang kali kejadian yg meninggal selalu peserta os. Padahal panitia os lebih banyak. Klo hal itu karena sakit atw apalah, logikanya harusnya lebih banyak panitianya yang mati (karena panitia ngga mungkin luput dari sakit), kan mereka berkumpul ditempat yg sama melakukan di tempat yg sama.

    Saya ngga ikutan os karena dari dulu emang nganggap itu ajang gaya2 doang, pamer2 jaket ada lambang itb nya. huh…anak itb gitu lo

  58. Nunu on

    Menurut hemat sayah (padahal sayah agak boros juga sih)
    *jayus deh akyu*

    Ospek tetap harus ada
    Ospek itu bagus…karena seperti yang sayah bilang di atas kalo esensi ospek itu untuk membangun kebersamaan, keakraban, solidaritas, dll yang bagus2 lah…

    Tapi Ospek keras itu gak bagus…
    Ospek yang cincay cem kumpul2 silaturahmi, joging bareng keliling ITB, cuman ampe jam 5 sore atau maksimal jam 7 malem itu tetep bagus, selama esensi si ospek itu tercapai.
    Karena untuk membentuk mental yang keras tidaklah harus dengan ospek yang keras.

    Emang kerasa banget kalo jadi panitia ospek yang cincay, karena waktu sebelumnya ngerasain ospek yang keras ampe banyak yang tepar n sekitar 6 orang masuk borromeus.
    Tapi buktinya, esensi si ospek itu tercapai meskipun cuma kumpul2 “silaturahmi” doang. Pribadi dari anak2 yang diospek secara halus pun nda kalah sama yang diospek secara keras, terbukti jebolan TI 2004 ada yang jadi presiden KM. hohohoho….

    OSPEK TETEP PERLU!!!
    Tapi ospek yang bikin tepar itu gak perlu.
    Toh esensinya sama dengan ospek yang berupa silaturahmi doang.

    @hendra jaya : solusi??? ON CLINIC ajah…wkwkwkwk
    *ngejang colongan mode on*

  59. Samuel on

    Waktu tahun 1983pun OS itu sudah dilakukan secara “tidak resmi” namun waktu itu masih ada saja dosen yang merasa perlu melestarikan “budaya” senior menyiksa junior ini.

    OS yang dilaksakan adalah ilegal dan di luar kampus. Berarti tidak melibatkan ITB sebagai institusi. Yang perlu dipertanyakan adalah, kalau ITB sebagai institusi tidak mengizinkan OS, mengapa semua (atau hampir semua) mahasiswa tahun kedua merasa perlu ikut.

    Saya ingat seorang teman Tambang 81 yang akhirnya dropout karena dia tidak ikut OS (yang di zaman itu sangat keras) dan akhirnya kesulitan kuliah karena ketidaknyamanan menghadapi asisten, mungkin juga beberapa dosen.

    “Hazing” adalah tradisi yang sebenarnya berkembang di kemiliteran. Kalau ITB mencanangkan diri benar-benar tidak mendukung cara-cara lama, mestinya alumni dan mahasiswa senior ITB yang harusnya menjadi pelopor menghilangkan kebiasaan ini.

  60. dwinanto on

    @arimbi: sepakat, memang bagaimana pun hal ini merupakan catatan hitam yang bagaimana pun perlu dicegah terulang kembali di masa mendatang,.

    @Rachmad: ditilik dari sejarah os di ITB sejak masa lalu, diketahui atau tidak oleh pihak luar ITB maupun rekan-rekan alumni, saat ini kondisinya sudah jauh berubah dan kekerasan telah lama ditinggalkan dan dibuang jauh2. akan tetapi faktanya adalah tragedi meninggalnya atau terlukanya mahasiswa masih terjadi beberapa kali, jadi, apakah ini benar2 disebabkan oleh kekerasan ??

    @Nunu: sepakat, mungkin memang stigma negatif “ospek” sudah mendarah daging, tapi esensi kaderisasi bukanlah kekerasan, namun transfer nilai dan pembentukan karakter,.

    @Samuel: yang perlu ditinggalkan adalah budaya penggunaan kekerasan dalam proses kaderisasi, namun jangan sampai kita justru mengeliminasi proses yang esensinya baik, cukup dengan mengganti metode yang digunakan,.

  61. Ikram on

    Dear Dwi, saya tertarik dengan bagian terakhir kronologi ini, yang anda bilang “paling mendekati kebenaran”.

    Wisnu sempat menunjukkan beberapa gejala gangguan kesehatan, mulai dari buang air besar dan mengeluarkan busa dari mulutnya, hingga akhirnya sekitar pukul 03.00 dini hari Minggu Wisnu tumbang,.

    Panitia pun memutuskan mengistirahatkan dan memberikan pertolongan pertama kepada Wisnu sebelum akhirnya menjelang pukul 06.00 akan dilarikan ke rumah sakit, namun ternyata Wisnu telah tiada,.

    Lihat sendiri kan? Wisnu keluar busa dari mulut pukul 3 pagi. Tapi panitia menunggu hingga menjelang pukul 6 untuk membawanya ke rumahsakit.

    Apa yang mereka harapkan dalam 3 jam itu? Sebuah keajaiban sehingga Wisnu sembuh sendiri?

  62. Rachmad K on

    Ya udh sepakat lah klo emang udah banyak niat baik untuk mengubah dari berbagai pihak. Klo kejadian lagi, gw tinggal marah2 lagi ah…toh bukan gw yang punya ITB. Balik lagi ah berlatih teknik yoyo nya(yang ini asli tidak akan berakibat kematian, paling benjol doang klo salah tangkap).

  63. Nozzy on

    haha ributnya klo ada yg meninggal doank…kasihan yg meninggal, mending di doain…mungkin bukan kekerasan tp klo lemah jantung dibentak2 jg deg2 ser, apalgi pas keadaan lg tegang2..untuk jogging ga semua org bisa olahraga dengan enaknya, sapa tau ada yg memang tdk diperbolehkan berolahraga walo ringan sekalipun…mana kita tau…

    klo acara kumpul2 mah makan2 bareng, nonton bareng, dan mini game2 laen aja dijamin jg akrab..yg happy2…bener ga?

    yg perlu ditekankan disini adalah bukan kekerasan di dalam OS, tetapi meninggalnya seseorang pada saat OS…coba itu kejadian terjadi di sabuga paling ga bs cepet sampe boromeus…jauh2 jg buat apa, klo sbenernya dekat pun bisa??

    @dwinanto : klo boleh tau maksud dri pembentukan karakter itu seperti apa?dan maksudnya apa?haha sori gw bukan org yg suka dengan gini2..karena karakter gw ya itu karakter gw..be your self :p masa dri SMP, SMA, Kuliah pun ada muluk..bosen kali…dah besar2 kali..pembentukan karakter itu paling pas ya pada saat muda…tapi sayang keknya ga ngaruh banyak deh diliat dri banyaknya kasus-kasus yg dialami pelajar/ mahasiswa..

    keknya manfaat dri osjur = dapet berkas2 tugas dri angkatan atas de..haha…bener ga tuh..:p

  64. Setyo on

    saya juga turut berduka cita..
    terlebih lagi karena banyaknya berita simpang siur dan perdebatan yang terjadi..

    pendapat dari saya pribadi dan terlepas dari permasalahan ini.. saya sendiri orang yang kurang aktif berorganisasi dan tidak menyukai hal apapun yang memakai nama kaderisasi/ospek/apapun jika mengandung sedikitpun kekerasan.. namun saya tetap merasa hal tersebut perlu karena jika pesertanya mengikuti dengan ikhlas dan niat yang baik, pastinya ada manfaat yang bisa dipetik..

    jika memang almarhum bisa membaca blog ini, pastinya ia akan makin sedih karena adanya perdebatan mengenai siapa yang salah, perlukah ospek, dan sebagainya..
    saya hanya berharap masalah ini dapat terselesaikan secepatnya dan dalam proses ke sana semoga semua pihak dapat berkepala dingin, baik yang terlibat secara langsung, tidak langsung, ataupun yang sama sekali tidak terlibat (misalnya memberi komentar-komentar di blog ini)..

    @dwinanto
    terima kasih atas infonya, meskipun mungkin tidak 100% akurat.. namanya juga manusia, pasti punya salah dan ada saja yang menyalahkan apalagi dalam kondisi seperti ini..

  65. dwinanto on

    @ikram: itu data dari kronologis waktu hari Minggu (08/02/09), belum banyak pencarian fakta dan penelusuran yang dilakukan, setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut ternyata diperoleh kronologis yang lebih lengkap yang akan dirilis oleh pihak IMG secara resmi dalam waktu dekat ini. Tapi yang pasti panitia telah berusaha sebisa mungkin dan hanya faktor nasib yang kurang baik,.

    @Rachmad: tampaknya anda punya ketertarikan tersendiri dengan yoyo ya,.πŸ™‚

    @Nozzy: Pembentukan karakter salah satunya melalui penanaman nilai dan budaya yang ada di organisasi dan komunitas di mana kita akan beraktivitas,.

    @Setyo: semoga jiwa almarhum diterima di sisi-Nya,.

  66. ikram on

    Dear Dwi, jadi kronologi yang ada di sini pun masih belum lengkap ya…

    Maafkan saya karena telah menganggap sebaliknya, sebab selain anda bilang kronologi ini “paling mendekati kebenaran”, saya lihat anda juga mencoret kata “yang dapat diingat” di kalimat ini:

    Berdasarkan pemaparan perwakilan IMG pada rapim berikut kronologis yang dapat diingat secara garis besar peristiwa yang terjadi

    Sebaiknya tidak usah dicoret, Dwi, supaya orang paham bahwa kronologi yang ada di sini pun masih sejauh ingatan semata, belum versi lengkap.

    Terimakasih,
    Ikram

  67. Rachmad K on

    @Setyo
    “jika memang almarhum bisa membaca blog ini, pastinya ia akan makin sedih karena adanya perdebatan mengenai siapa yang salah, perlukah ospek, dan sebagainya”

    Anda berbakat jadi paranormal. xixixi. Jangan diterusin ah.

  68. dwinanto on

    @ikram: iya, itu yang paling mendekati kebenaran, tapi perlu diingat bahwa tulisan itu dibuat tanggal 9 Februari, dan kini sudah sekian hari berlalu, dan tentunya telah banyak perkembangan yang terjadi dalam informasi dan pencarian fakta, bahkan koran pun terbit setiap hari,.

  69. arif on

    Yang harus diperjelas :
    PPAB IMG tidak ada kekerasan sama sekali.
    Jadi, pmbahasannya mending lebih ke arah “kenapa wisnu meninggal?”… karena jika panitia sudah benar dari segi teknis, atau dokter menyatakan bahwa wisnu meninggal secara wajar, ada ospek atau tidak ada ospek, tetap saja meninggal kan….?

    Yang jadi perhatian saya sekarang : kenapa rektorat dari hari senin sudah menjatuhkan sanksi terlebih dahulu, padahal penyelidikan polisi masih dilakukan sampai sekarang…. jika kesalahan panitia adalah karena tidak punya izin, hukumlah dengan sanksi administratif, ga usah DO, blacklist Alumni, dan menyalahkan Orang Tua.

    bwt temen-temen semua… IMG punya perjanjian dengan rektorat untuk 1 pintu dalam hal penyampaian informasi. tapi ternyata rektorat malahan…. you know lah.

  70. Rini on

    Dokter Muda itu adalah orang yang sudah lulus dari sarjana kedokteran dan masuk ke dunia per-koass-an. jadi memang istilah dokter muda itu betul.

    tetapi saya baca berita, AMP juga melibatkan dokter dari bag. syaraf RSHS. jadi bukan hanya dokter muda saja. walaupun saya bukan mahasiswa atau lulusan FK Unpad, saya mempunyai teman anak FK Unpad yang juga kebetulan anggota AMP, dan benar mereka memang digembleng selama 3 bulan lebih dengan latihan yang berat, sangat berat tentunya dibekali dengan keterampilan medis. perlu diketahui, mereka juga melakukan perjalanan selama seminggu lebih, dengan medan yang sangat berat dan membawa beban. jadi mereka sangat “capable” untuk melakukan rescue.

    saya sangat menyayangkan panitia yang tidak melibatkan AMP di lapangan. karena justru di lapangan itulah kejadian yang paling memungkinkan terjadinya “musibah”.

    saat saya membaca bahwa AMP dipersalahkan karena tidak melakukan sesuatu dan hanya mengerjakan RJP saja, saya bingung mengapa itu dipermasalahkan, karena memang itu prosedur medis yang seharusnya.

    jadi tolong, introspeksi semua pihak. AMP, panitia ospek, ataupun seluruh pihak yang bersangkutan. semoga hal ini tidak terjadi lagi dan tidak menyalahkan dan men”judge” seenaknya baik kepada pihak ITB ataupun medis. saya harap tidak terjadi distorsi fakta yang sebenarnya sehingga pihak satu menyalahkan yang lainnya karena “ketidakmampuan” untuk menghadapi masalah yang ditimbulkan sendiri, terima kasih.

  71. ikram on

    Dear Dwi,

    Tolong jangan setengah-setengah. Anda menyiarkan kronologi ini di sini dengan mengatakan “inilah kronologi yang paling mendekati kebenaran”.

    Tetapi ketika saya menunjukkan adanya pengabaian + kelalaian panitia yang menunda selama 3 jam untuk membawa Alm Wisnu ke rumahsakit, anda berkilah “versi itu masih belum lengkap”.

    Anda ingin kronologi ini dipercaya orang, atau tidak, sih.

    Baiklah, mari kita tunggu versi resmi IMG saja. Paling tidak, satu hal sudah jelas; tidak terjadi kekerasan.

    Sekarang IMG tinggal menjelaskan saja mengapa mereka tidak segera membawa Alm Wisnu padahal dia sudah berulangkali mengeluh dan menunjukkan tanda-tanda tidak sehat.

    Terimakasih,
    Ikram

  72. sherlanova on

    Saya turut berduka cita atas meninggalnya alm. Dwiyanto Wisnugroho. Semoga semua amalannya diterima Allah dan dosa-dosanya diampuni Allah…

    Pertanyaan: kenapa sih kronologi kejadian gak diperhatiin lagi?

    Yang jadi pertanyaan saya yang terbesar adalah ini:

    KENAPA peristiwa yang sudah sepatutnya disebut “tragedi” ini (bagi keluarga almarhum terutama), malah disebut “just another obstacle, a BIG one”?

    KENAPA?

    Mohon maaf, tapi Anda sepatutnya mempertimbangkan masak-masak pernyataan itu. Kesan yang timbul adalah “Anda tidak punya hati, dengan menempatkan peristiwa meninggalnya Dwiyanto sebagai hambatan/sandungan/atau apapun namanya dalam pergerakan mahasiswa”.

    Kata “Big” tidak bisa lagi “menetralisir” istilah “just another obstacle” yang terlebih dulu dinyatakan–kalau Anda bermaksud bersimpati pada keluarga Dwiyanto.

    [Mungkin Anda perlu belajar bahasa Inggris lebih dalam lagi untuk bisa memahami makna “just another…”]

    Kesimpulan yang saya peroleh, “pergerakan kemahasiswaan” itu lebih penting dari nyawa mahasiswa yang terlibat di dalamnya. Benar begitu?

    Tidak perlu dijawab atau dikomentari bila Anda belum siap. Saya berharap tragedi ini bisa dijadikan ujian bagi mereka-mereka yang terlibat, untuk melihat apakah mereka memang manusia yang punya harga diri, yang bisa dengan jantan dan berani mengakui bahwa mereka memang melakukan kesalahan dan bertindak lalai, dan berani bertanggung-jawab.

    PS. Komentar alumnus YPKP: “ITB memang bagus. Tapi bikin nyeremin ah, mati orang.”

  73. sherlanova on

    Saya turut berduka cita atas meninggalnya alm. Dwiyanto Wisnugroho. Semoga semua amalannya diterima Allah dan dosa-dosanya diampuni Allah…

    Pertanyaan: kenapa sih kronologi kejadian gak diperhatiin lagi?

    Yang jadi pertanyaan saya yang terbesar adalah ini:

    KENAPA peristiwa yang sudah sepatutnya disebut “tragedi” ini (bagi keluarga almarhum terutama), malah disebut “just another obstacle, a BIG one”?

    KENAPA?

    Mohon maaf, tapi Anda sepatutnya mempertimbangkan masak-masak pernyataan itu. Kesan yang timbul adalah “Anda tidak punya hati, dengan menempatkan peristiwa meninggalnya Dwiyanto sebagai hambatan/sandungan/atau apapun namanya dalam pergerakan mahasiswa”.

    Kata “Big” tidak bisa lagi “menetralisir” istilah “just another obstacle” yang terlebih dulu dinyatakan–kalau Anda bermaksud bersimpati pada keluarga Dwiyanto.

    [Mungkin Anda perlu belajar bahasa Inggris lebih dalam lagi untuk bisa memahami makna “just another…”]

    Kesimpulan yang saya peroleh, “pergerakan kemahasiswaan” itu lebih penting dari nyawa mahasiswa yang terlibat di dalamnya. Benar begitu?

    Tidak perlu dijawab atau dikomentari bila Anda belum siap. Saya berharap tragedi ini bisa dijadikan ujian bagi mereka-mereka yang terlibat, untuk melihat apakah mereka memang manusia yang punya harga diri, yang bisa dengan jantan dan berani mengakui bahwa mereka memang melakukan kesalahan dan bertindak lalai, dan berani bertanggung-jawab.

    PS. Komentar alumnus YPKP: “ITB memang bagus. Tapi nyeremin ah, bikin mati orang.”

  74. Setyo on

    @ Rachmad K
    makanya pake “jika..”

  75. iwan on

    wah aq turut berduka cita yah…sobat

  76. mita on

    @ aci

    perlu dipahami, bahwa apa yang pihak IMG hadapi adalah sesuatu yang besar. Sesuatu yang harus dan akan kami pertanggungjawabkan.

    mengingat hal tersebut, maka kami (dan tentunya PIHAK MANAPUN JIKA MENGALAMI HAL YANG SAMA) tidak akan gegabah dalam memberikan respon. sedikit saja salah/gegabah dalam memberikan reaksi (apalagi dalam waktu yang salah pula), maka berpotensi untuk menciptakan kondisi yang lebih chaos.

    itulah kenapa kami terkesan diam, terkesan lama dalam memberikan press release (baik klarifikasi maupun statement).

    silakan buktikan kata2 saya pada press release nanti.

  77. wawan el-00 on

    Saya sangat menyayangkan kok bisa bisanya ospek bisa membuat seseorang meninggal dunia. semurah itu kah harga naywa seorang manusia. malilah kita kembali kepada nilai nilai kemanusiaan dan tujuan awala anda kuliah.

    tujuan kuliah hanya satu : menimba ilmu yg lebih spesifik untuk tujuan masa depan masing masing dari kita agar bisa memberikan manfaat bagi sekitar..

    masalah pengembangan diri, ideologi, motivasi itu adalah hak asasi setiap manusia dan kaderisasi/ospek hanya bagian yg sangaat keciiil dalam membangun hal hal di atas. saya ini non himp dari awal, tapi bukan berarti saya benci him.
    anda tau sendiri kan ospek HME itu bisa dibilang enteng. but saya lebih memilih him karena saya sama sekali tidak melihat manafaat dari kegiatan fisik yg dilakukan saat ospek. useless. keterlaluan sekali sampai seseorang meninggal.

    semoga siapa siapa yg bersalah agar d hukum seberat beratnya dunia dan akahirat. dan tutup saja itu IMG

  78. Dwinanto on

    @arif: setuju, memang setelah diteliti melalui berbagai prosedur, terbukti penuh tidak ada aspek kekerasan dan kelalaian panitia dalam peristiwa tersebut,. namun, hal yang menjadi penyebab meninggalnya wisnu masih misteri, selain karena alasan kehendak Yang Maha Kuasa,.

    @Rini: betul sekali, seharusnya baik pihak media, khususnya juga rektorat ITB sendiri, tidak tergesa-gesa dalam pengambilan keputusan, sehingga tidak ada pencitraan buruk terhadap salah satu pihak yang sebenarnya tidak bersalah,.

    @ikram: ini versi yang paling mendekati kebenaran dari data yang diperoleh pada hari ketika tulisan ini dibuat, tolong dipertimbangkan aspek waktu yang sudah berjalan dan tentunya berbagai penyelidikan yang dilakukan setelah itu,. hingga saat ini saya belum memperoleh kronologis resmi versi mereka secara tertulis, baru secara lisan, karena masih akan disempurnakan lagi ungkap mereka,.

    @sherlanova: nyawa seorang anak manusia memang penting, namun pertanyaan terbesarnya, mana yang lebih penting, memikirkan almarhum yang sudah tiada, atau memikirkan nasib banyak orang yang masih hidup,. mana yang bisa kita ubah, apakah dengan kita fokus pada perginya almarhum akan membuat almarhum kembali, tentunya tidak, namun dengan kita memikirkan nasib pergerakan mahasiswa ke depannya, kita akan dapat mencegah peristiwa serupa menimpa orang lain di masa mendatang, itu poin pentingnya,. tolong jangan berpikiran sempit dan menjustifikasi pihak mana pun hanya dari sejumlah hal yang tidak sepenuhnya anda ketahui kondisinya,.

    @mita: ditunggu segera versi rilis dari pihak IMG, saya mendukung sepenuhnya,.

  79. Setyo on

    @ mita
    saya juga menunggu versi rilis dari pihak IMG.
    semoga saya bisa mempertahankan kenetralan saya sampai saat itu dan tidak menyalahkan siapa2 atas kejadian ini..

  80. adiya on

    @ semuanya

    terimakasih atas kenetralan yang anda coba pertahankan sampai saat ini. kamipun, IMG, akan menegakkan kebenaran, sekaligus mempertanggungjawabkan peristiwa ini.

  81. ikram on

    Dear Dwi,

    Andalah yang sebaiknya lebih dulu mempertimbangkan “aspek waktu yang sudah berjalan dan tentunya berbagai penyelidikan yang dilakukan setelah itu”.

    Tolong coret kata “paling mendekati kebenaran” untuk kronologi yang anda posting di sini sebab pada kenyataannya, kronologi ini tidak lebih baik dari versi kronologi lain yang tersebar, kan?

    Terimakasih,
    Ikram

  82. dwinanto on

    Betul sekali, memang seharusnya hal tersebut dimodifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini lagi,.
    Terima kasih banyak,.

  83. mbak maya on

    Turut berduka cita. Mulai mengerti sekarang kejadian sebenarnya. Kalau bicara berita yang di-blow up media, saya pikir memang negeri ini sedang dilanda ‘kebebasan’ yang ‘kebablasan’. Terus berjuang ya (jadi ingat jaman kuliah dulu).

  84. Rachmad K on

    @Dwinanto
    “nyawa seorang anak manusia memang penting, namun pertanyaan terbesarnya, mana yang lebih penting, memikirkan almarhum yang sudah tiada, …”

    Dalam hal ini, anda benar2 lugu…Pada saat orang memperjuangkan yang telah meninggal untuk menghukum pelakunya dengan menegakkan keadilan, berarti kita telah telah ikut memikirkan nasib banyak orang yg masih hidup!!! Kali ini saya geleng2 kepala karena beginilah kualitas putra ITB. Sudah lah, relakan aja kematian munir, sudahlah relakan aja kematian marsinah, sudah lah relakan aja para TKI yang disiksa itu…sudah lah…mari kita pikirkan langkah selanjutnya….yaitu membiarkan nyawa manusia makin tidak berharga!!!

  85. arif on

    saya menghargai pendapat semua teman-teman disini yang memang dulunya juga aktif berorganisasi dan melakukan kaderisasi. Musibah ini bisa terjadi pada siapapun, maka kita ambil hikmahnya. terutama masalah koordinasi antar panitia.

    @ wawan el 00 : saya ini non himp dari awal, tapi bukan berarti saya benci him….

    anda kan nonhim, kok malah mu nutup img. permasalahn sebenarnya aja ga tau… tolong mas dwi, dikader dlu lah orang ini. anda itu seperti menyuruh orang untuk memberhentikan mobilnya, tapi anda ga bisa naek mobil.. belum pernah jadi anggota himp, ngomong sembarangan..

    Maaf mas dwi, jadi emosi. emosi saya seperti saat anda bermasalah dengan oknum sipil saat itu.

  86. dwinanto on

    @Rachmad: tolong jangan melenceng terlalu jauh, yang saya nyatakan adalah jangan sampai fokus masalah kepergian rekan IMG kali ini malah menjadikan kemahasiswaan berhenti berkembang, apakah dengan kematian Munir, pemerintah Indonesia ditiadakan demi menghargai nyaawa seorang Munir?? Apakah itu akan membuat sang Munir bahagia?? Apakah dengan demikian kita akan meringankan beban dosa yang ditanggung sang Munir?? Bukan berarti demikian, kita memang harus mencari fakta, tapi jangan sampai kita hanya terpaku pada hal itu saja dan seolah mencari kambing hitam, pencarian fakta harus terus berjalan, begitu pula dengan kemahasiswaan, jangan sampai ada yang terkorbankan, dan saya hanya mencoba membuka pandangan bahwa ada hal yang berpengaruh pada kehidupan mahasiswa, bukan hanya satu, namun ribuan bahkan jutaan mahasiswa ke depannya. apakah anda sanggup menanggung bahwa sekian generasi mahasiswa ITB ke depannya menjadi mahasiswa yang apatis dan siap menghancurkan bangsanya sendiri karena tidak memperoleh apa yang disebut dengan pembentukan karakter di kemahasiswaan akibat kemahasiswaan yang saat ini kita kenal menghilang akibat kasus IMG ini??

    @Arif: sepakat, memang kita semua bebas mengemukakan pendapat, namun jangan sampai semua itu tak berlandaskan sesuatu yang nyata dan hanya sekedar asumsi semata,.

  87. accan on

    Wah…. aku baca artikelnya…..
    Sabar aja Buat ITB coz Infotaimentnya………… πŸ˜€

    Regrads
    Accan

  88. dwinanto on

    Terima kasih banyak ya,.πŸ™‚

  89. irfanhanif on

    Asik dapet no komen ke 90πŸ˜€

    Awalnya ada yg gw kurang sreg sama tulisan ini,, kok ga ada kesan berduka sama sekali bwt si korban ya.. Kayaknya klo keluarga/orang tua dari Wisnu baca tulisan ini bakal makin sedih deh, meninggalnya anaknya hanya sekedar obstacle bwt kalian >__<

  90. irfanhanif on

    …(komennya td kepotong, heran) .Mudah2an hal tsb sudah disampaikan dikesempatan lain y to..

    Singkat aja pendapat gw terhadap kejadian ini,, hal ini murni kecelakaan, bukan merupakan kesalahan sistem. Andaikan saja kejadian ini adalah sebuah kecelakaan mobil, munculnya kecelakaan ini adalah dikarenakan supir yg teledor bukan kesalahan pada jalannya yang buruk. Oleh karena itu, cukup supirnya yang bertanggung jawab (dalam hal ini panitia kaderisasi yang kurang berhati2), tidak perlulah reaksi yang berlebih seperti menutup jalan tersebut. >_<

  91. dwinanto on

    Memang aspek keprihatinan kurang ditonjolkan si sini, tapi bukan berarti mencoba mengecilkan perasaan kehilangan yang terjadi,.

  92. miphz on

    Gabung lagi ah,,,

    Ini ada beberapa diskusi menarik, dan tampaknya isu lokal ini bisa menjadi isu sentral di tingkat nasional, hehehe,,,

    Diawali oleh:

    Syukron Abdillah yang menulis di Pikiran Rakyat tanggal 17 Februari 2009

    http://miphz.wordpress.com/2009/02/25/ospek-dan-relasi-tuan-budak/

    Kemudian ditanggapi oleh:

    Bobby Rahman juga di Pikiran Rakyat 20 Februari 2009

    http://miphz.wordpress.com/2009/02/25/meluruskan-paradigma-tentang-ospek/

    Lalu perang opini dilanjutkan di blog…

    Misal di:

    http://sukronabdilah.wordpress.com/2009/02/23/menyoal-the-death-university/

    Dan juga di:

    http://miphz.wordpress.com/2008/12/24/crime-forensic-result-of-penyakit-mental-turunan-pab-ars-upi/

    Saya bukan mahasiswa ITB tapi cukup konsern dengan masalah ini… ^_^

  93. dwinanto on

    Pandangan yang menarik dari berbagai pihak,.
    Semoga ini bia membuka pikiran kita,.πŸ™‚

  94. ratnaayu_nina on

    menarik membca diskusi ini.
    personally in my opinion, ospek tu like brainwash, agar sense of belonging thdp almameter diperkuat dg memberikan perasaan maba bahwa mereka belong to a society. biasanya lebih ditekankan image dari society tsb dlm ospek. image2 yg bgus, hingga sering menimbulkan chauvinisme n sense of arogansi thdp societynya yg akan lasting hingga dunia kerja. yg even membuat maba society tsb meremehkan anggota society lain. even if mreka da lulus. mnutup thdp ilmu orng lain n opni orng lain. sdangkan bila ingin maju, sbuah bangsa hrus sanggup membuka pikirannya utk menghrgai opini lain n ilmu orang lain. krn tdk ad yg smpurna, dan smua sling melengkapi dg potensi msing2.
    saya jujur anti ospek dg aturan yg ada sekarang. saya besar di jerman selama 8thun (8thun hingga 16 thun, msa2 pembentukan kepribadian di saat puber) dan jujur tidak pernah ada ospek. memang sisi negatif adalah sifat individualisme, namun kultur lain yg timbul dr ni adlh profesionalisme yg sngt kuat. profesionalisme ni yg saya tdk bs temukan di indonesia. profesionalisme yg semata melihat prestasi seseorang, tak tergantung almameternya. mungkin solusi trbaik adlh jln tengah. kita filter pola hidup yg baik dr barat, tp juga ttp sesuaikan dg kultur kita sndri. rasa memilikki sesuatu, sense of belonging ke suatu society dan kebersamaan pasti hal yg sangat baik, namun diperhtikan dosisnya. untuk itu, shrusnya smua bijaksna dlm menentukan standard n norma n nilai2 yg hendak dismpaikan dlm sbuah ospek. juga dari pihak pimpinan univ sndri. syngnya susah jg krn pimpinan univ juga hasil ospekan hahaha. circle of evil ya hihi.
    skian, terimakasih atas wktunya utk membaca opini saya ini. maaf bila ad kata yg tak berkenan.
    -nina-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: